Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Istilah Bid'ah

 Banyak orang-orang yang berkerut keningnya di saat pertama kalinya dengar kata ini. Beraneka reaksi tampil dari seorang di saat diingatkan terkait problem ini. Ada yang menerimanya dan membetulkan ibadah ibadahnya dengan hidayah taufik dari Allah Ta'ala. Ada yang begitu cepat tutup diri untuk mendalaminya maka dari itu paling sering bercakap, "Ah… bisanya cuman membid'ah-bid'ahkan."

Mengenal Istilah Bid'ah


Ada juga yang benar-benar sudah tak asing lewat kata ini, tetapi nyatanya miliki wawasan yang keliru dalam mengartikannya. Pahamilah saudariku! Pengkajian terkait bid'ah tidak punya grup tersendiri. Juga tiap-tiap muslim mesti pelajarinya serta mewaspadainya dan tidak tutup diri dari kajian ini. Lantaran Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


و شرّ الأمور محدثاتها، و كلَّ محدثة بدعة


"Serta seburuk-buruk permasalahan ialah suatu hal yang diada-adakan ialah bid'ah." (HR. Muslim no. 867).


Serta sabda nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,


قإنّ كلَّ محدثة بدعة و كلّ بدعة ضلالة


"Sebab tiap-tiap persoalan yang anyar (yang diada-adakan) merupakan bid'ah dan tiap bid'ah yaitu salah jalan." (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).


Sesuai sama pengkajian mengenai kata sunnah di artikel lalu, karenanya benar-benar ulasan ini benar-benar (amat) penting, karena apabila tak pahaminya atau juga salah mengartikannya, karena itu bisa menyebabkan kekeliruan dalam beramal serta melaksanakan ibadah. Mudah-mudahan Allah memberi keluasaan dalam dada-dada kita, buat terima kebenaran yang diberikan oleh Rasulullah shollallahu'alaihi wa sallam.


Arti Bid'ah Secara Bahasa

Arti bid'ah secara bahasa yaitu menggelar suatu tanpa contoh awal mulanya. Pemakaian kata bi'dah secara bahasa ini salah satunya ada pada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,


قُلْ مَا كُنتُ بِدْعاً مِّنْ الرُّسُلِ


"Ucapkanlah (hai Muhammad), ‘Aku bukan rasul yang pertama pada rasul-rasul." (Al Ahqaf 46: 9).


Namun juga firman-Nya,


بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ


"Ia Allah Pembuat langit serta bumi." (Al-Baqoroh 2: 117).


Pengertian Bid'ah Secara Istilah

Berdasar pada arti yang diberi oleh Imam Syathibi, pengertian bid'ah secara makna yakni satu langkah baru dalam agama yang menyamai syari'at di mana maksud dibikinnya ialah untuk membikin nilai plus dalam ibadah terhadap Allah.


Dari uraian ini, kita perlu menegaskannya jadi sejumlah point.


Pertama, ‘suatu teknik baru dalam agama'. Masalah ini memiliki arti metode atau jalan baru itu disandar pada agama. Tentang hal teknik anyar yang tidak dinisbatkan terhadap agama karena itu bukan terhitung bid'ah. (bakal dikupas lebih detil di bawah).


Ke-2 , ‘menandingi syari'at'. Artinya ibadah bid'ah mempersyaratkan ibadah khusus yang seperti syari'at, maka ada beban yang wajib disanggupi. Contohnya puasa mutih, yasinan sehari-hari kamis (malam jum'at), puasa nisyfu sya'ban dll, Penting diperhatikan juga jika umumnya, tiap-tiap bid'ah  miliki kaidah. Tetapi, tak boleh sampai teperdaya dengan alasan yang dikasihkan, sebab ada dua pada kemungkinan kaidah yang dikasihkan. Pertama, kaidah itu mempunyai sifat umum akan tetapi dipakai dalam ibadah teristimewa. Ke-2 , bisa-bisa asas yang dipakai merupakan palsu. Maka dari itu, wahai saudariku, menuntut pengetahuan agama penting melewati keperluan kita pada minum serta makan. Pengetahuan agama diperlukan di tiap tarikan napas kita lantaran kaidah diperlukan buat tiap beribadah yang kita kerjakan.  Adalah kekeliruan sewaktu kita melaksanakan beribadah terlebih dulu baru menginginkan asas. Ini yang bikin ambil asas itu jadi tak pas sebab sebatas cari justifikasi pada ibadah yang sesungguhnya bukan termaksud syari'at.


Ke-3 , ‘tujuan dibikinnya merupakan untuk membikin nilai tambah dalam melaksanakan ibadah ke Allah'. Berarti, tiap bid'ah sebagai perlakuan berlebih-lebihan dalam agama, maka dari itu karena ada bid'ah itu karenanya beban seorang muslim (mukallaf) bertambah. Satu diantara perumpamaannya menyepesialisasikan puasa nisyfu sya'ban, walau sebenarnya puasa ini tak disyari'atkan dalam Islam. Benar-benar jadi rugi kan?  Kita berlindung terhadap Allah dari semua kelakuan percuma.


Waspada Bid'ah

Dari pengertian yang sudah dikatakan memperlihatkan bid'ah tak lain adalah tingkah laku yang punya tujuan menyamai syari'at. Lantaran Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً


"Di hari ini sudah Kusempurnakan buat kamu agamamu, dan udah Ku-cukupkan pada kamu ni'mat-Ku, serta sudah Ku-ridhai Islam itu dapat menjadi agama untukmu." (Al Maaidah 5: 3)


Jadi tak butuh buat satu orang untuk membikin langkah anyar dalam agama atau cari ibadah-ibadah yang lain itu yaitu kesia-siaan. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


منْ عمِل عملا ليس عليه اَمرنا فهو ردّ


"Barangsiapa yang melaksanakan satu ibadah yang tidak ada perintahnya dari kami, jadi tertolak."


Dalam histori lain, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


من أحدث في أمرنا هذا ما ليس مِنه فهوردٌّ


"Siapapun yang bikin persoalan anyar dalam soal agama yang tak ada sumbernya karenanya tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim).


Menurut hadits ini, ada tiga bagian yang membuat suatu bisa dijelaskan menjadi bid'ah.


Pertama, mendramatisirkan. Ini diambil dari lafadz man ahdatsa (من أحدث). Walau demikian membikin suatu hal yang anyar dapat terjadi dalam permasalahan dunia atau agama. Jadi dibutuhkan faktor yang ke-2 .


Ke-2 , kasus baru itu disandar pada agama. Ini diambil dari lafadz fii amrina (في أمرنا). Elemen ke-2  ini butuh ditambahkan bagian ke-3 . Sebab bila tak, akan muncul pertanyaan atau kesangsian, "Apa semuanya kasus anyar dalam agama jelek?"


Ke-3 , kasus itu bukan sisi dari agama. Ini diambil dari lafadz ma laisa minhu (ما ليس مِنه). Maknanya, tak ada kaidah yang resmi kalau hal semacam itu sempat ada.


Tiap Bid'ah Yaitu Salah jalan

Kenalilah saudariku. Tiap-tiap bid'ah yakni salah jalan. Perihal ini berdasar keumuman sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,


و شرّ الأمور محدثاتها، و كلَّ محدثة بدعة


"Dan seburuk-buruk persoalan yaitu suatu hal yang diada-adakan merupakan bid'ah." (HR. Muslim no. 867).


Dan sabda nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,


قإنّ كلَّ محدثة بدعة و كلّ بدعة ضلالة


"Sebab tiap permasalahan yang anyar (yang diada-adakan) yaitu bid'ah dan tiap bid'ah yaitu salah jalan." (HR. Tirmidzi serta Abu Daud).


Tentang hal pembagian yang terdapat di bid'ah, karena itu selalu memberikan kesesatan bid'ah itu.  Jadi pembagian bid'ah jadi bid'ah sayyi'ah dan bid'ah hasanah yakni sebuah kekeliruan sebagai halnya penulis uraikan penyebab-penyebabnya dalam artikel awal mulanya.


Imam Syathibi rahimahullah memperjelas dalam kitabnya pembagian bid'ah (yang selalu menentukan kesesatan semuanya bid'ah) yang bisa menegaskan kerancuan yang berada di orang. Yang pertama yakni bid'ah mendasar yang permasalahannya lebih terang (terkecuali untuk beberapa orang yang taklid serta tidak ingin belajar) sebab bid'ah esensial tak miliki sandaran kaidah syar'i sama sekalipun.  Seumpama memastikan kesesuaian seeorang menjadi suami atau istri dengan tanggal lahir atau mengerjakan ritus-ritual spesial di acara pernikahan yang tidak ada landasannya dalam syari'at sama sekalipun.  Akan halnya bila bersangkutan dengan bid'ah idhofi karenanya beberapa orang mulai rancu dan menanyakan. Contohnya, bid'ah zikir berjama'ah, atau tahlilan. Banyak orang-orang cepat-cepat dengan mengucapkan, "Waktu zikir tidak diperbolehkan sich?" atau "Kok membaca Al Qur'an tidak diperbolehkan?" Karenanya kita perlu (lagi) mengerti lebih dalam terkait bid'ah ini.


Bid'ah idhofi ini punyai dua segi, maka kalau disaksikan di satu diantara segi, karena itu seolah-olah itu sama dengan sunnah karena menurut asas. Akan tetapi apabila disaksikan dari segi lain, ibadah itu bid'ah cuma karena bergantung pada syubhat, tidak pada kaidah atau mungkin tidak disandar ke suatu hal apa saja. Adapun kalau disaksikan dari segi arti, jadi bid'ah idhofi ini secara asal punya kaidah. Walau demikian disaksikan dari segi langkah, pembawaan atau  pemerinciannya, karena itu kaidah yang dipakai tidak beri dukungan, meskipun sebenarnya tata langkah ibadah itu memerlukan alasan. (Majalah Al-Furqon edisi 12 tahun V). Karenanya terang yang tidak boleh tidaklah zikir atau membaca Al-Qur'an buat contoh dalam persoalan ini. Namun, kebid'ahan itu berada pada tata langkah, karakter atau  pemerincian di beribadah itu yang tidak ada perumpamaannya dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, yakni dengan melafadzkan zikir bersama dikepalai satu imam atau membaca Al-Qur'an buat orang mati. Seluruhnya ini yakni trik baru yang tak pernah dimisalkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.


Catatan penting dalam soal ini yakni dalam kasus beribadah (yakni apapun yang kita niatkan untuk merapatkan kita di Allah Subhanahu wa Ta'ala), kita harus penuhi dua persyaratan, adalah tulus cuma untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sama dengan yang diteladankan serta disuruh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.


Demikian saudariku, sedikit pengantar untuk mendalami terkait kata bid'ah serta resikonya. Ulasan mengenai bid'ah miliki area yang paling luas - yang dengan kebatasan penulis - tidak bisa dituangkan keseluruhan dalam tulisan kesempatan ini. Untuk perdalam pembicaraan, silahkan lihat kembali kitab-kitab yang penulis bikin acuan. Mudah-mudahan Allah Ta'ala membuat lebih mudah kita dalam mengerti pengkajian ini dan menerimanya dengan lega dada dan bikin kita beberapa orang yang usaha kuat jauhi permasalahan baru dalam agama. Aamiin ya mujibas saailin.


___


Maraji':

Majalah Al Furqon edisi 12 tahun V/rajab 1427

Pengamatan kitab Ushulus Sunnah kreasi Imam Ahmad oleh Ustadz Aris Munandar

Ikhtisar Al I'tisham - terj -, Syaikh Abdul Qadir As Saqqaf, Alat Hidayah, Cet I, thn 2003

Posting Komentar untuk "Mengenal Istilah Bid'ah"