Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hukum Menikah Beda Agama

 Pembicaraan perihal pernikahan berbeda agama dalam Islam, penting terbedakan di antara pernikahan lelaki Muslim dengan wanita non-Muslim serta pernikahan wanita Muslimah dengan lelaki non-Muslim.

Hukum Menikah Beda Agama

Wanita Muslimah jangan menikah dengan lelaki non-Muslim

Orang wanita Muslimah jangan menikah dengan lelaki non Muslim, baik Yahudi, Nasrani atau selainnya mereka. Sampai pernikahan itu tidak syah dalam penglihatan syari'at. Jikalau kerjakan interaksi intim teranggap selaku zina, wal ‘iyyadzu billah.


Allah Ta'ala berfirman:


فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ


"Karena itu bila kamu sudah tahu jika mereka (sungguh-sungguh) memiliki iman karena itu jangan sampai kamu balikkan mereka terhadap (suami-suami mereka) beberapa orang kafir" (QS. Mumtahanah: 10).


Allah Ta'ala pun berfirman:


لاَ هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ


"Tidak mereka wanita mukminah halal buat lelaki musyrik, dan tidak lelaki musyrik halal untuk wanita mukminah" (QS. Al Mumtahanah: 10).


Serta ulama ijma (setuju) dapat soal ini, tak ada khilafiyah. Al Qurthubi menjelaskan:


وأجمعت الأمة على أن المشرك لا يطأ المؤمنة بوجه لما في ذلك من الغضاضة على الإسلام


"Ulama setuju kalau lelaki musyrik jangan menikah dengan wanita mukminah karena ini tergolong merendahkan Islam" (Tafsiran Al Qurthubi, 3/72).


Lelaki Muslim jangan menikah dengan wanita non-Muslim disamping ahlul kitab

Wanita yang non-Muslim selainnya ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), yakni yang beragama Hindu, Budha, Konghucu, Majusi, atheis serta yang lain, jangan dinikahi oleh lelaki Muslim. Berdasar firman Allah Ta'ala:


وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ


"Jangan menikah dengan wanita-wanita musyrik sampai mereka mempunyai iman. Serta benar-benar budak-budak wanita yang memiliki iman lebih bagus dari wanita musyrik biarpun mereka mempesona kalian" (QS. Al Baqarah: 221).


Ibnu Katsir rahimahullah memaparkan ayat ini: "Dalam ayat ini Allah azza wa jalla mengharamkan banyak lelaki Mukmin untuk menikah dengan wanita-wanita musyrik dari golongan penyembah berhala. Meski wujud kalimat dalam ayat ini umum, meliputi seluruhnya wanita musyrik baik ahlul kitab atau penyembah berhala, tapi udah diprioritaskan kecakapannya pada wanita ahlul kitab dalam ayat lain" (Tafsiran Ibnu Katsir, 1/474).


Yang diterangkan oleh Ibnu Katsir merupakan surat Al-Maidah ayat ke 5 yang dikupas tersebut ini.


Lelaki Muslim bisa menikah dengan wanita ahlul kitab

Berlainan kembali dengan pernikahan lelaki Muslim dengan wanita ahlul kitab (Yahudi atau Nasrani), jadi ini resmi serta diperkenankan. Allah Ta'ala berfirman:


وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ


"(dan dihalalkan menikah dengan) wanita yang mengawasi kehormatan antara wanita-wanita yang mempunyai iman dan wanita-wanita yang melindungi kehormatan pada beberapa orang yang dikasih Al kitab saat sebelum kamu, jika kamu udah bayar mas kawin mereka bermaksud menikah dengannya, tak bermaksud berzina serta tak (juga) membuat gundik-gundik" (QS. Al-Maidah : 5).


Tapi jangan kebalikannya, wanita Muslimah menikah dengan lelaki Yahudi atau Nasrani. Ini tak dibolehkan, sebagai halnya sudah dikupas awal mulanya. Ibnu Katsir rahimahullah memaparkan: "Banyak ulama ijtihad serta ulama pada umumnya, berlainan opini dalam mengartikan arti wanita yang {jaga kehormatan pada wanita-wanita yang mempunyai iman serta wanita-wanita yang melindungi kehormatan antara beberapa orang yang dikasih Al kitab sebelumnya kamu}. Apa ini berlaku umum untuk seluruhnya wanita Ahlul Kitab yang jaga kehormatan? Baik wanita merdeka atau budak wanita? Ibnu Jarir menukil dari beberapa salaf jika mereka mengartikan muhshanat di sini yakni seluruh wanita Ahlul Kitab yang melindungi kehormatan. Sejumlah salaf menerjemahkan kalau muhshanat di sini yaitu Israiliyyat, dan ini yakni saran madzhab Syafi'i. Serta sejumlah ulama lainnya beranggapan muhshanat di sini yaitu Ahlul Kitab yang dzimmi bukan yang harbi" (Ijtihad Al Qur'anil Azhim, juz 3 perihal. 42).


Beliau rahimahullah pula berkata: "Beberapa kawan dekat Nabi pun menikah dengan beberapa wanita Nasrani, mereka tak larang hal itu.  Mereka berdalil dengan ayat (yang maknanya) : "(dan dihalalkan menikah dengan) wanita yang jaga kehormatan antara wanita-wanita yang mempunyai iman serta wanita-wanita yang melindungi kehormatan antara beberapa orang yang dikasih Al kitab saat sebelum kamu" (QS. Al Maidah: 5). Serta mereka memandang ayat ini ialah takh-shish (pengecualian) kepada ayat dalam surat Al Baqarah (yang berarti) : "tak boleh sampai kalian menikah dengan wanita-wanita musyrik sampai mereka mempunyai iman" (QS. Al Baqarah: 221)" (Tafsiran Al Qur'anil Azhim, juz 3 soal. 42).


Karenanya jelaslah perihal bolehnya lelaki Muslim untuk menikah dengan wanita Yahudi atau Nasrani. Terutama jika dengan menikah dengan mereka, menjadi jalan hidayah supaya mereka mentauhidkan Allah dan memegang Islam.


Tetapi, tentu menikah dengan wanita Muslimah yang shalihah itu paling utama pada umumnya. Lantaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan jika orang yang bisa berbahagia dan mujur dalam pernikahannya ialah orang yang menunjuk wanita shalihah untuk jadi istrinya. Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ


"Wanita kebanyakan dinikahi karena empat perihal: karena hartanya, lantaran posisinya, karena wajahnya serta sebab agamanya. Jadi hendaknya kamu tentukan wanita yang baik agamanya (keislamannya). Bila tidak begitu, tidak mustahil kamu bakal jadi rugi." (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).

Posting Komentar untuk "Hukum Menikah Beda Agama"