Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Adab Menyambut Tamu

Adab Menyambut Tamu

Islam ialah agama yang prima yang mengajari kebaikan pada manusia dalam tiap-tiap faktor kehidupan. Demikian pula dalam bermuamalah dengan setiap manusia, diberikan banyak adab-adab yang mulia dalam agama Islam ini. Salah satunya ialah adat yang dibimbingkan saat terima tamu.

Di di antara adab-adab yang mulia dalam terima tamu merupakan berikut ini.

Pertama: Membuka pintu saat sebelum hadirnya tamu

Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

حتى اذا جاءوها وفتحت ابوابها

Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka.” (QS. Az-Zumar: 73)

Dalam ayat tersebut, Allah memuliakan hamba-Nya yang beriman dengan membukakan pintu-pintu surga sebelum mereka tiba. Ayat ini mengajarkan adab dalam menerima tamu, yaitu membukan pintu untuk mereka.

Kedua: Mengutamakan tamu

Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu menceritakan, “Suatu ketika seorang laki-laki menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengadukan, ‘Wahai Rasulullah, aku tertimpa kelaparan.’ Beliau pun mengutus seseorang kepada istri-istrinya. Sayangnya utusan tersebut tidak mendapatkan sesuap makanan pun. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Adakah yang berkenan menjamunya malam ini? Semoga Allah merahmatinya.’ Berdirilah seorang laki-laki dari Anshar sambil mengatakan, ‘Aku wahai Rasulullah.’ Ia pun pergi mendatangi keluarganya dan berpesan kepada istrinya, ‘Ini adalah tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah engkau mengecewakannya sedikit pun.’ Sang istri pun merespon, ‘Demi Allah, aku tidak memiliki apa-apa selain makanan untuk anak-anak.’ Laki-laki itu memberi solusi, ‘Jika anak-anak ingin makan malam, maka tidurkanlah mereka. Lalu kemarilah dan matikanlah lampu. Malam ini kita tidur dengan perut kosong.’ Akhirnya istrinya pun melakukannya. Pagi harinya, laki-laki itu kembali bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun menyampaikan kabar gembira, ‘Sungguh Allah takjub atau tertawa karena perbuatan Fulan dan Fulanah.’ Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat,

ويؤثرون على انفسهم ولو كان بهم خصاصة

Dan mereka (Anshar) mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Kisah tersebut memuat motivasi untuk memuliakan serta memprioritaskan tamu ketimbang diri sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat tersebut kepada tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga: Menyambut tamu dengan baik

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menyampaikan, “Tatkala rombongan ‘Abdul Qais tiba di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengucapkan,

مرحبا بالوفد الذين جاءوا غير خزايا ولا ندامى

Selamat datang para utusan yang datang tanpa penghinaan dan penyesalan.” (HR. Bukhari no. 6176 dan Muslim no. 17).

Dalam hadits di atas, Nabi memberikan keteladanan dalam menyambut tamu yakni dengan mengucapkan selamat datang serta kalimat yang baik.

Keempat: Menjamu serta memuliakan tamu

Dari Abu Syuraih Al-Ka’bi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان يومن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا او ليصمت و من كان يومن بالله واليوم الاخر فليكرم جاره من كان يومن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه جائزته يوم وليلة وضيافته ثلاثة ايام فما كان بعد ذلك فهو صدقة ولا يحل له ان يثوي عنده حتى يحرجه

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya. Jamuan yang wajib yaitu sehari semalam. Sedangkan hak bertamunya adalah tiga hari. Adapun selebihnya maka itu sedekah. Tidak halal bagi tamu untuk tinggal di rumah pemiliknya hingga membuat tuan rumah merasa susah.” (HR. Bukhari no. 5670 dan Muslim no. 3255)

Hadist itu mengatakan jika memuliakan tamu termaksud pertanda keimanan. Tuan-rumah sebaiknya menyediakan jamuan yang spesial di hari awalan lalu menghidangkan makanan yang umum dia makan di 3 hari seterusnya. Sedang tamu semestinya tidak bermalam lebih pada 3 hari sehingga bisa membikin tuan-rumah terasa terusik serta tak nyaman.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Wallahu a’lam.

Posting Komentar untuk "Adab Menyambut Tamu"